Oleh

Lelaki kelahiran Bone, 23 November 1973 ini mengawali pengalaman pemberdayaannya sejak menduduki bangku kuliah di jurusan ilmu kelautan Universitas Hasanuddin sebagai aktivis gerakan pemberdayaan relijius yang melakukan dakwah keliling ke sekolah-sekolah dan pesantren di Makassar.

Setelah mendapatkan gelar sarjananya, Mas Jufri, panggilan akrab pria yang masa kecilnya sering dihabiskan di sawah dan pantai ini, bergabung bersama rekan-rekan alumni lainnya dalam sebuah lembaga yang fokus pada pemberdayaan masyarakat pesisir di kepulauan Spermonde, Takabonerate, Kabupaten Pangkep, Makassar. Selama empat tahun ia menjalankan kampanye persuasif mengenai penyadaran lingkungan akan perusakan terumbu karang di kalangan kelompok nelayan yang menangkap ikan menggunakan bom.

”Kita coba mendekati mereka (kelompok nelayan—Red.) menggunakan forum-forum di mesjid. Saya sendiri pernah khutbah di mesjid, saat shalat jumat atau ceramah-ceramah di bulan Ramadhan. Menggunakan muatan-muatan relijius, kita sampaikan tentang pentingnya menangkap ikan dengan ramah lingkungan. Kita datang ke rumah-rumah mereka, silaturahmi, bicara dari hati ke hati. Ternyata mereka sebenarnya tidak mau seperti itu, namun mereka sudah berada di dalam lingkaran modal yang membuat mereka harus menangkap ikan.

”Kita mencoba menunjukkan alternatif cara untuk meraih nilai pendapatan yang sama bahkan lebih menguntungkan daripada menggunakan bom. Kita kembangkan budaya rumput laut sebagai pemasukan alternatif ekonomi nelayan. Ketika rumput laut yang mereka kembangkan sudah bagus dan tiba-tiba mati karena terkena bius dari bom, itu menyadarkan masyarakat betapa pengaruh negatif dari alat tangkap yang merusak itu. Mereka dengan sendirinya melokalisir dan mengusir nelayan-nelayan yang menggunakan alat tangkap bius karena khawatir terumbu karangnya rusak dan lahan budidaya rumput lautnya terganggu. Banyak yang berhenti menggunakan bom. Banyak juga yang menjadi aktivis lingkungan dan bergabung dengan kita untuk mengubah masyarakat.”

Mas Jufri mengakui bahwa ketertarikannya untuk terjun dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir diawali oleh niatnya untuk belajar. Ia pun terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian habitat bakau dan budidaya kepiting di kepulauan Kapoposang dan Baluluang, serta pelatihan-pelatihan lainnya yang berhubungan dengan ilmu kelautan.

”Di kampus kita belajar tentang ilmu biologi, fisika, dan kimia kelautan. Tapi setelah kita ke luar, melihat masyarakat di sana, terjun belajar tentang masyarakat kepulauan, ternyata banyak masalah yang perlu dibenahi. Ilmu di dunia kampus ada yang bermanfaat, terutama bagaimana mengidentifikasi potensi sumberdaya alam, namun setelah teridentifikasi kenapa terbengkalai? Itu menjadi motivasi saya, bagaimana menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya sumber daya kelautan. Kalau masyarakat tidak sadar, keturunan-keturunan mereka di masa datang bisa kehilangan mata pencaharian. Bayangkan kalau setiap hari mereka melakukan perusakan terumbu karang, bagaimana anak cucunya?”

Namun niatnya untuk belajar tidak hanya sampai di situ. ”Latar belakang saya murni dari ilmu kelautan. Saya tidak tahu tentang pola pengorganisasian masyarakat. Berinteraksi dengan masyarakat, bagaimana mengorganisasi warga dengan kelompok-kelompok sosial yang berbeda membutuhkan ilmu baru.” Hal itu yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan S2nya dan belajar mengenai pemberdayaan masyarakat di jurusan manajemen pembangunan sosial, Departemen Sosiologi, Universitas Indonesia.

Kepindahannya ke Jakarta semakin memperluas jaringan perkenalannya dengan berbagai komunitas pemberdayaan masyarakat lainnya. Iapun bergabung sebagai aktivis pada lembaga pemerhati aktivitas perusakan terumbu karang Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, lembaga pengawas korupsi Masyarakat Transparansi Indonesia, dan Pusat Studi Konflik Universitas Indonesia (CERIC UI).

Lulus dari program pascasarjana UI pada tahun 2006, iapun diajak oleh pembimbing tesisnya, Imam B. Prasodjo, Ketua Umum Yayasan Nurani Dunia (YND) untuk bergabung dalam LSM tersebut. Sebagai program manajer di YND, kini Mas Jufri berperan memfasilitasi berbagai proyek pemberdayaan bagi kelompok-kelompok sosial yang mengalami konflik antar kampung dan pemuda mantan pecandu narkoba di kawasan Bonang, Jakarta Pusat, serta masyarakat perkampungan kumuh yang menjadi korban bencana banjir di kawasan Kapuk, Jakarta Utara (melati).

Pengalaman pemberdayaan masyarakat:

  • Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Pesisir pada Konsorsium Pemerhati Kapoposang dan Yayasan Konservasi Laut Indonesia (1999-2004)
  • Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Pesisir pada lembaga Destructive Fishing Watch Indonesia (2002-2005)
  • Peneliti pada lembaga Masyarakat Transparansi Indonesia
  • Program Manajer Yayasan Nurani Dunia (2006-sekarang)
  • Ketua Masyarakat Peduli Nelayan Nusantara (2006-sekarang)

Kontak Andi Muhammad Jufri: 0815 8415 9647, (021) 9332 4830, email amjuf@yahoo.com