Oleh Melati

Cuaca sore itu terasa agak mendung. Sepertinya akan turun hujan. Namun tidak menyurutkan semangat Wening (23) untuk datang ke sebuah perempatan lampu merah di salah satu sudut kota Semarang. Hampir setiap hari ketika sore dan malam hari, Wening dan beberapa orang kawannya menyempatkan diri untuk datang ke beberapa titik yang biasa menjadi tempat para anak jalanan nongkrong setiap harinya.

Wening dan beberapa orang yang masih tercatat sebagai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang itu tergabung dalam ASA PKBI Jawa Tengah, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang pendampingan anak jalanan, khususnya dalam bidang kesehatan, termasuk IMS dan HIV/AIDS.

Sebagai kota yang sedang beranjak menuju kota besar dan metropolitan, berbagai macam isu sosial juga menyertai perkembangan kota Semarang ini. Berbagai macam kegiatan aktivitas masyarakatnya mulai dari sektor ekonomi, sosial dan budaya, meletakkan Jawa Tengah, khususnya kota Semarang sebagai magnet bagi pendatang yang memenuhi kota ini, termasuk bermunculannya anak-anak jalanan yang banyak menghuni sudut-sudut kota atau lampu-lampu merah di perempatan jalan.

Data terakhir anak jalanan yang menjadi dampingan ASA PKBI Jateng ini adalah mencapai kurang lebih 89 anak jalanan per bulan Juni 2007. Sekitar dua tahun lalu, jumlah anak jalanan yang didampingi oleh ASA PKBI Jateng adalah 202 anak, dan tahun 2006 sebanyak 158 anak. Penurunan jumlah dampingan ini memberikan sebuah kenyataan bahwa jumlah anak jalanan di beberapa sudut kota Semarang semakin berkurang.

Beberapa hal yang menjadi penyebabnya adalah semenjak diberlakukannya visi misi kota Semarang menuju Pesona Asia, anak jalanan dipandang sebagai “debu-debu yang harus disapu“ karena merusak citra kota. Bahkan mereka dikirim ke luar kota untuk mendapatkan pembinaan dari dinas terkait. Hal ini juga berkaitan dengan peraturan pemerintah kota Semarang yang menetapkan aturan bahwa kegiatan yang diizinkan di jalanan adalah berdagang koran, selain dari itu akan dikenakan razia tramtib.

ASA PKBI Jawa Tengah sebagai salah satu Lembaga yang bergerak dalam bidang pendampingan anak jalanan, telah melakukan kegiatannya sejak tahun 1998 yang didasarkan oleh bentuk keprihatinan oleh epidemi HIV/AIDS di Jawa Tengah sehingga berupaya untuk menjadikan anak jalanan yang berdaya guna.

Secara struktural, Lembaga ASA PKBI Jateng berada di bawah garis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Jawa Tengah (PKBI Jateng). Lembaga ini menitikberatkan kepada program pencegahan penyebaran IMS dan HIV/AIDS di kalangan anak-anak jalanan.

Lembaga ini sendiri mempunyai beberapa unit kegiatan yaitu Unit Outreach, yang secara langsung turun dan berinteraksi dengan anak jalanan dan komunitas lainnya yang berada di lingkungan anak jalanan bersangkutan termasuk memberikan informasi IMS HIV/AIDS dan narkoba, pendataan terhadap kondisi dampingan, membentuk kelompok dampingan dan pertemuan dengan kelompok dampingan, Unit KIE atau Komunikasi Informasi dan Edukasi yang menyelenggarakan dan memberikan penyuluhan HIV/AIDS pada masyarakat, publikasi dan dokumentasi, pengembangan media KIE, melakukan advokasi dan Unit Konseling dan Layanan Medis yang memberikan layanan konseling, informasi melalui telepon, surat, email dan tatap muka serta pengadaan dan penyelenggaraan layanan medis.

Dengan latar belakang anak jalanan yang berasal dari kalangan ekonomi sangat tidak mencukupi, menjadikan mereka mulai dihadapkan pada keadaan untuk bisa menghasilkan uang, dengan cara misalnya meminta-minta atau mengamen. Kehidupan jalanan yang keras menjadikan anak-anak yang seharusnya bisa mendapatkan lebih dari yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi Wening atau kawan-kawannya yang lain. Tidak mudah baginya untuk bisa masuk begitu saja ke dalam komunitas anak-anak jalanan ini, untuk mendapatkan kepercayaan mereka hingga mau melakukan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

”Yang saya lakukan hanya menjadi pendengar mereka saja. Itu saja yang mereka butuhkan,” ujar Wening. “Yah, mereka, anak-anak itu hanya butuh untuk didengarkan keinginan dan apa yang diharapkan dalam kehidupan mereka ke depannya.”

Bukan hal yang mudah untuk mencapai sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Proses bertahun-tahun bahkan kadang diperlukan untuk melihat perubahan yang diinginkan. Kebiasaan sehari-hari yang tidak mengenal budaya bersih misalnya hingga kini masih tetap diajarkan kepada mereka. Membersihkan dan menggunting kuku, mandi, menyikat gigi dan kebiasaan kecil lainnya ditanamkan kepada mereka. Lebih khusus kepada anak jalanan perempuan dan laki-laki yang beranjak remaja, mulai diajarkan pendidikan Kesehatan Reproduksi. Khusus untuk remaja perempuan, ditekankan juga mengenai bahaya traficking, tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Hingga kini, hampir 10 tahun pendampingan anak jalanan dilakukan dan proses pendekatan terhadap komunitas jalanan pun semakin membuahkan hasil. Sebut saja Dewa (17). Dia masih berumur 13 tahun ketika pertama kali bertemu ASA PKBI Jateng Dan sekarang, Dewa telah menjadi relawan ASA PKBI Jateng untuk menjadi contoh bagi kawan-kawannya di jalanan. Dia mulai menjadi pendidik sebaya di kalangan anak-anak jalanan di kota Semarang.

”Nek pada ngumpul ngono asik, Mas. Ben ora dho tukaran koyok biyen,” ujar Dewa. (Kalau pada ngumpul gitu asik, Mas. Biar nggak pada ribut mulu kayak dulu—penulis).

Salah satu hal yang membuat kawan-kawan Asa menjadikan Dewa sebagai relawan adalah karena sejak dulu Dewa selalu proaktif terhadap kedatangan para relawan dari ASA PKBI Jateng. Ia selalu bisa menjadi ”perpanjangan tangan” dari kawan-kawan ASA PKBI Jateng bila merasa kesulitan untuk menjangkau lebih dalam terhadap komunitas jalanan, sehingga lewat Dewa sebagai peer educator, pendekatan-pendekatan yang dilakukan dapat lebih mudah.

Dewa juga selalu merespon dengan baik setiap hal yang diajarkan oleh relawan ASA PKBI Jateng. Hal lainnya adalah bila ada komunitas anak jalanan yang bersikap anti atau kurang merespon dengan baik terhadap kedatangan relawan ASA PKBI Jateng untuk pertama kali ke komunitas-komunitas anak jalanan, Dewa akan selalu membantu untuk memperkenalkan mereka. Bahkan, Dewa membantu ASA PKBI Jateng untuk berencana mendirikan sebuah paguyuban musik anak jalanan di beberapa titik.

Harapan adalah kekuatan terhebat yang dimiliki oleh manusia, namun juga bisa menjadi sebuah kelemahan yang berbahaya bila tidak hati-hati mengarahkannya. Namun, bagi Wening, Dewa, dan mereka yang peduli, perubahan itu haruslah diusahakan dan bukan untuk ditunggu agar terjadi.

Nasrullah, lahir di Kendari, 30 Mei 1981. Tamat SMU tahun 1999. Lulus kuliah tahun 2006. Pekerja freelance. Pemerhati masalah sosial terutama isu HIV/AIDS dan pemberdayaan masyarakat. Kontak: 081575193955. Email: waterman_hero@yahoo.com