Oleh

Akrab dipanggil Eni. Alumni pelatihan PFPM. Edward Lontah kontak Eni lewat email minta dia cerita pendampingannya bersama Sokola di Kampung Wailago, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Berikut petikannya.

Momen apa yang mendorong anda terjun ke dunia pemberdayaan masyarakat?

Tahun 2007 saya mengikuti Pelatihan PFPM di Yogyakarta. Awalnya saya ikut karena ajakan seorang teman. Saya sama sekali ‘buta’ tentang masalah pemberdayaan masyarakat, tetapi saya ingin belajar tentang hal-hal baru. Di pelatihan itu saya bertemu dengan orang-orang yang memang telah berpengalaman atau bahkan ahli di dunia pemberdayaan masyarakat. Mereka membagi saya ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Akhirnya saya mulai berpikir tentang kepuasan jika bisa bekerja dalam dunia yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain dan juga diri saya sendiri.

Kenapa Sokola?

Saya perduli dengan dunia pendidikan dan merasa semua orang berhak untuk memiliki kebebasan untuk belajar. Pada waktu saya berkeinginan bekerja dalam bidang pemberdayaan masyarakat, saya memilih bidang yang berhubungan dengan pendidikan. Saya mulai untuk mencari akses ke organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga yang memiliki program-program pendidikan. Seorang kawan yang kebetulan saya kenal di pelatihan PFPM menyarankan untuk mencoba menghubungi Sokola, karena kelompok itu konsis dalam bidang pendidikan.

Kesan terhadap Sokola?

Sampai hari ini Sokola masih konsisten dengan tujuannya, yaitu memberikan pendidikan alternatif bagi masyarakat asli/pribumi dimana akses pendidikan formal sangat dibutuhkan tetapi sangat sulit didapatkan. Saya merasa di Sokola saya bisa membagi ilmu sekaligus belajar tentang kondisi-kondisi masyarakat. Dan saya merasa Sokola memang bisa memfasilitasi pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan tetapi karena kondisi dan keadaan maka keberadaan pendidikan mesti disesuaikan dengan alur kehidupan mereka.

Apa saja yang dilakukan?

Tugas saya adalah mengajar literasi lanjutan baca tulis dan hitung, disertai dengan pendidikan lifeskill yang memberikan keterampilan-keterampilan yang bisa menambah pengetahuan dan pengalaman yang menunjang kehidupan mereka.

Suka dukanya?

Sukanya adalah antusiasme masyarakat akan keberadaan Ruma sokola memberikan semangat tersendiri bagi saya. Letak geografis tempat itu memberikan pemandangan-pemandangan menakjubkan setiap hari. Pengalaman-pengalaman dan pelajaran tentang kehidupan orang-orang di wailago, keramahan, kekeluargaan dan sikap respek warga terhadap kami juga menjadi pengobat rindu pada keluarga dan ras terasing kami terhadap kehidupan dikota.

Dukanya adalah terbatasnya akses terhadap dunia luar. Dari Kampung Wailago, Kami hanya bisa menyeberang ke Pulau Flores seminggu sekali, setiap Kamis, itu pun jika cuaca baik. Akses informasi juga hanya mengandalkan alat komunikasi HP. Akses kesehatan juga terbatas, sehingga apabila sakit cukup repot. Keluarga dan kenyamanan akan kemudahan dan kelengkapan fasilitas di kota memberikan kerinduan tersendiri.

Kendala dalam pendampingan?

Kendala yang lumayan terasa saat terhambatnya proses belajar mengajar karena kesibukan warga dalam menghadapi musim tanam atau panen. Bisa vakum berminggu-minggu. Belajar juga vakum jika ada warga pesta-pesta dalam merayakan perkawinan atau sunatan. Mereka bergotong-royong membantu sang penyelenggara pesta. Transportasi yang hanya ada pada waktu-waktu tertentu pun kadang menghambat kegiatan belajar-mengajar yang berhubungan dengan kerja keterampilan karena adakalanya harus membeli bahan-bahan di kota.

Bagaimana mengatasinya?

Selain bersabar menunggu sampai para warga tidak lagi disibukkan oleh kegiatan berladang dan berkebun, juga acara-acara pesta, maka diberikan alternatif pelajaran seperti diberi tugas yang bisa diselesaikan kapan saja. Jika ada waktu senggang, kita melakukan diskusi agar warga terus berpikir tentang perubahan dan perkembangan di dunia luar.

Tanggapan masyarakat Kampung Wailago terhadap kegiatan Sokola?

Warga sangat antusias mengikuti program-program yang diadakan, bahkan mereka seringkali bertanya apakah mereka telah mengikuti program-program itu dengan cara yang sesuai. Kesibukan berladang seringkali membuat mereka menyesal tidak bisa rutin mengikuti pelajaran.

Harapan untuk dunia pemberdayaan masyarakat di Indonesia?

Saya berharap program-program yang diberikan benar-benar memberikan manfaat dan mengajarkan kemandirian kepada masyarakat. Perlu ditanamkan pengertian jika setiap program itu dari masyaraklat dan untuk masyarakat, sehingga pada saat proses pendampingan selesai, mansyarakat mampu untuk meneruskan, bahkan kalau bisa lebih kreatif lagi dalam usahanya memperbaiki kehidupan.

Pendapat mengenai fasilitator pemberdayaan masyarakat?

Saya belum lama terjun dalam dunia fasilitator, dan belum banyak bertemu ataupun menyimak cara kerja fasilitator-fasilitator yang lain, sehingga saya tidak bisa memberikan pendapat yang akurat tentang kapasitas fasilitator. Tetapi sejauh yang saya tahu, tidak semua fasilitator memiliki niat dalam diri mereka untuk benar-benar mendampingi masyarakat. Ada sebagian yang memiliki tujuan untuk sekedar pekerjaan, proyek, jalan-jalan atau tujuan-tujuan yang lain. Dan kadang itu semua tidak menjadikan motivasi yang efisien dan efektif untuk kerja seorang fasilitator.

Pendapat mengenai PFPM?

Karena saya memulai semua ini dari pelatihan PFPM, saya ,merasa apa yang telah diberikan dalam pelatihan sangat bermanfaat dan berguna. Jejaringnya pun sangat luas dan bisa memberikan informasi yang dibutuhkan.

BIODATA SINGKAT
Nama: Dwi Anggraeni
Tempat Tanggal lahir: Jakarta, 22 Mei 1979
Alamat rumah: Jalan Sidikan No.21 UH V Yogyakarta
Pendidikan: S1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bisnis dan Perbankan Yogyakarta
Pekerjaan: Volunteer untuk SOKOLA ( The Alternatif School for Indigenous People) mendamping masyarakat pesisir Wailago Pulau Besar, Frores, NTT.