Oleh Tommy Bernadus

Banyak yang tidak tahu, kalau di masyarakat, banyak fasilitator yang sudah makan “asam-garam” untuk urusan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya Fajar Sudarwo. Orang yang sudah mulai memberdayakan masyarakat semenjak 24 tahun lalu, tepatnya 1983 ini, memiliki keinginan yang sangat besar untuk berbagi pengalaman dengan para fasilitator muda.

“Mengapa? Karena ‘ilmu’ yang dimiliki para sesepuh ini nantinya akan sangat berguna buat para fasilitator muda yang akan terjun dalam pemberdayaan masyarakat nantinya,” ungkap pria berusia 48 tahun ini memulai perbincangan dengan tim Knowledge Management (KM) Pengembangan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat (PFPM).

Koordinator para “Top Fasilitator” ini mengakui, banyak sekali pengalaman dari fasilitator senior yang tercecer di berbagai wilayah di Indonesia. Dia mencontohkan beberapa di antaranya seperti pengalaman almarhum Romo Mangun (Y.B Mangunwijaya), Amri Salassa dan Max Mahose. “Mereka ini punya pengalaman hebat, namun sayang, banyak yang tidak tahu, dan hanya ada di ‘kepala’ para fasilitaor senior ini. Belum terungkap secara nyata,” kata alumni strata satu dan dua di Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini.

Pria yang aktif di IRE Yogyakarta ini menuturkan, pertama-tama ingin melakukan identifikasi siapa saja fasilitator senior yang ada di Indonesia. Setelah melakukan identifikasi akan dilakukan pendekatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. “Paling tidak melalui orang terdekatnya atau yang berada di ‘inner circle’ atau lingkaran sekitarnya, Orang inner circle ini diyakini akan mampu menghubungkan dengan fasilitator senior ini” tutur pria yang sudah berkeliling indonesia menjadi “lead facilitator” dan sering memberikan memberikan pelatihan kepada fasilitator muda ini.

Setelah melakukan pendekatan, lanjutnya, tentunya akan didapat pengalaman dan ilmu sakti para fasilitator senior. “Nah, setelah didapat pemikiran mereka, masuklah ke dalam pengelolaan pengetahuan … memetakan secara paragdimatik, kawasan berpikir mereka, dalam peta gerakan sosial pemberdayaan masyarakat di indonesia,” jelasnya.

Pengalaman dari para fasilitator senior ini diharapkannya adalah pengalaman yang “maha” menarik. Selain memberikan pengalaman yang maha menarik tersebut, tentunya dibutuhkan pemikiran-pemikiran dan ilmu serta “senjata pamungkas” untuk para generasi penerus atau fasilitator muda ini.

Menurutnya, kalau sudah teridentifikasi, agar mudah dicerna oleh para fasilitator muda, ilmu sakti dari para fasilitator senior ini haruslah dikemas semenarik dan kalau bisa sepopuler mungkin. “Jangan dibuat ruwet lah agar gampang dicerna,” katanya.

Para fasilitator senior ini juga, Fajar Sudarwo menjelaskan, terdiri dari berbagai kalangan. Misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM atau NGO), Akademisi, Praktisi, Profesional dan Agamawan bahkan Jurnalis. “Karena itu, nantinya akan dibuat berseri, sesuai dengan asal fasilitator tersebut,” ujarnya.

Media Rakyat

Apa sih sebenarnya fasilitator pemberdayaan masyarakat itu? Dari pengalaman menjadi fasilitator semenjak 24 tahun lalu di berbagai tipe masyarakat dan beragam topik. Menurutnya, fasilitator pemberdayaan masyarakat adalah satu karakter manusia, yang memposisikan dirinya untuk mempermudah proses rakyat miskin, menderita atau kalangan “bawah” untuk bangkit, memperjuangkan hak-hak hidup mereka.

Nah bagi para penerusnya atau fasilitator muda, untuk bisa terjun ke masyarakat, seorang fasilitator haruslah menguasai media rakyat karena media ini untuk dimengerti oleh masyarakat. “Misalnya kesenian rakyat, keagamaan, atau pendekatan bisa dilakukan melalui kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan dan lain-lain,” ungkapnya.

Ke depan nantinya, Fajar Sudarwo mengharapkan adalah lahirnya manusia2 seperti Lao-Tse. “Datanglah pada rakyat, dengarkan mereka, berikan mereka motivasi agar mereka bangkit dan keluar dari penjara kemiskinan,” tuturnya menutup pembicaraan.

Kenyang Pengalaman

Fajar Sudarwo pertama kali terjun ke dunia pemberdayaan masyarakat ketika menjadi relawan di Kali Bening, Banjar Negara, Jawa Tengah ketika menjadi mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) UGM tahun 1983-1984.

Berbagai jenis penelitian pun pernah dilakoninya. Sudah tidak terhitung lagi pengalamannya menjadi fasilitator dan terjun ke masyarakat. Sumba, Nusa Tenggara Timur, Aceh, Papua pernah dijelajahinya untuk menjadi fasilitator.

Selain lulus dari UGM baik strata satu maupun dua, berbagai pelatihan pernah dikecapinya seperti pelatihan jurnalistik, analisis sosial di LP3ES. Bahkan dia pernah mengikuti pelatihan pembuatan film dokumenter yang menjadi salah satu keahliannya hingga saat ini. Bahkan pelatihan gerakan sosial baru pernah di-enyamnya di Kathmandu, Nepal.

Keahlian yang dimilikinya adalah bisa menjadi fasilitator di berbagai tipe masyarakat dan kelas sosial seperti buruh, petani hingga masyarakat pesisir pantai. Dia juga ahli dalam memberikan pelatihan kepada fasilitator. Maklum, sudah 24 tahun malang melintang di dunia pemberdayaan masyarakat. (tommy bernadus)