Oleh

Kisahnya bermula pada awal tahun 1997. Didesa Ngaso, Kecamatan Tandun, Rokan Hulu, Provinsi Riau, ada satu kelompok yang merupakan perkumpulan pembuat batu bata. Seiring waktu, 17 orang anggotanya sepakat untuk iuran 50 buah bata per tungku pembakaran setiap bulan. Masing-masing anggota mempunyai 1 sampai 3 tungku pembakaran. Uang hasil penjualan batu bata itu digunakan untuk menyewa kerbau. Kerbau ini gunakan untuk merancah tanah. Merancah adalah proses awal dimana tanah bahan baku batu bata diinjak-injak dengan bantuan kerbau dalam sebuah kubangan ”lumpur” sampai ‘matang’ dan siap cetak.

Pada masa itu sewa seekor kerbau untuk merancah tanah Rp. 50 ribu per 3 jam. Menyewa kerbau pun tidak mudah karena harus bergiliran dengan calon pengguna tenaga kerbau lainnya. Terkadang, para pembuat batu bata ini harus ’menganggur’ 3 sampai 4 hari sebelum antrean sampai pada gilirannya.

Kondisi ini tentu mempengaruhi produksi bata yang rata-rata hanya menghasilkan 500 buah per harinya. Selain belum memiliki kerbau, lahan bahan batu bata para anggota pun masih terbatas. Pernah mereka mencoba mengajukan permohonan pinjaman pada sebuah bank pemerintah, namun ditolak. Usaha batu bata dianggap tidak bisa digunakan sebagai jaminan.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Casmidy. Ia pentolan kelompok batu bata Desa Ngaso. Bersama beberapa anggota masyarakat, ia mengemukakan idenya dalam acara penggalian gagasan. Mereka mengusulkan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) sebagai salah satu usulan dari desa. Berdasarkan musyawarah, sebagian besar anggota masyarakat menyetujuinya. Namun sebagian lainnya meragukan dana Program Pengembangan Kecamatan (PPK) bakal turun, termasuk beberapa anggota kelompok. ”Kalaupun turun pasti tidak sesuai dengan jumlah yang kita usulkan,” ujar Casmidy menirukan komentar beberapa anggota masyarakat.

Kenyataan ini tidak menyurutkan semangat Casmidy bersama 9 orang anggota kelompok lainnya. ”Kami ikut mendengar saat sosialisasi PPK dilakukan. Kami menganggap PPK lain dengan program terdahulu, dengan beberapa prinsipnya sebagai partisipasi, transparansi serta keberpihakan pada orang miskin, sehingga kami yakin”, ungkap Casmidy. Akhirnya dalam Musyawarah Antar Desa 2 (MAD 2), usulan UEP ini didanai sesuai dengan rencana pengajuan pinjaman oleh Kelompok Batu Bata Mandiri. Jumlahnya sebesar Rp. 20 juta.

Pinjaman PPK tersebut lalu digunakan untuk membeli 4 ekor kerbau. Sisanya RP.2 juta, dijadikan simpanan kelompok. Angsuran pengembalian kelompok UPK sekitar Rp. 2 juta perbulannya. Sesuai kesepakatan, anggota anggota diwajibkan mencicil pada kelompok sebesar Rp. 200 ribu per bulan, ditambah Rp. 50 ribu sebagai simpanan anggota yang menunggak. Uang simpanan ini juga dapat dipinjamkan pada anggota yang membutuhkan.

”Alhamdulilah, sampai saat ini lancar-lancar saja. Tidak ada satu pun anggota yang menunggak,” ujar Casmidy. Hingga pinjaman dari PPK lunas, Kelompok ini telah mempunyai kas sebesar Rp. 8,7 juta selain dari iuran simpanan anggota, penambahan kelompok juga diperoleh dari hasil penyewaan empat ekor kerbau.

Tiga bulan sekali diadakan pertemuan rutin. Beberapa agenda yang dibicarakan adalah laporan keuangan, pembagian tugas untuk menggembalakan kerbau dan upaya kedepan untuk memajukan usaha anggota. Sebagian besar pertemuan dilakukan di rumash Casmidy, karena ia memiliki rumah dengan ruang tamu yang relatif luas. Setiap rapat pun selalu ada notulensinya, sehingga semua kesepakatan dan keputusan bersama selalu tercatat. Selain itu, para pembuat batu bata ini pun telah memiliki buku kas kelompok, pinjaman dan simpanan anggota.

Rencana kedepan, kelompok Batu Bata Mandiri akan membuka usaha waserba yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Semoga rencana yang positif ini dapat segera terwujud, ide – ide Casmidy memang ”Cespleng” alias “Manjur.”

Laporan Pelaku PPK Kec. Ujung Batu, Kab.Rokan Hulu, Provinsi Riau

Sumber: Surat Dari Desa: Inspirasi Untuk Melangkah Lebih Tinggi