Arsip

Pencarian | 0 Komentar
Jangan Jadikan Indonesia Negeri Sejuta Monumen
oleh:boyamra tanggal: 13.Sep.2009 835 Klik
Menghindari pembangunan monumen melalui Program Pemberdayaan Masyarakat. Oleh: Febriboy Amra
Berbagai program percepatan pembangunan di segala bidang telah dirancang dan dilaksanakan Pemerintah, mulai dari program pembangunan fisik hingga pembangunan manusia. Namun sampai detik ini program yang jumlahnya mencapai belasan bahkan mungkin puluhan itu belum berhasil menjadikan bangsa yg madani seperti yang diharapkan, memang betul MDGs (Millennium Developments Goals) masih tersisa 5 tahun lagi dari target pada tahun 2015, tapi kalau bukan dari sekarang kita berbuat sesuatu yang nyata untuk tahun setelah 2015 tersebut jangan harap MDGs tersebut dapat dicapai dengan baik.
Sedikit me review program pemberdayaan masyarakat yang telah dijalanakan oleh masing-masing departemen yang mayoritas telah melebur kedalam PNPM Mandiri, mulai dari PPK, P2KP, PPIP, PUAP, PDTK, dll. Secara umum program-program tersebut menitik beratkan kepada pembangunan fisik, namun apa yang terjadi saat ini? Sangat banyak jumlahnya uang negara yang terbuang percuma untuk pembangunan tanpa menimbang manfaat kelangsungan bangunan tersebut bagi masyarakat daerah sebagai penerima manfaat, yang ada hanya masyarakat mendapat upah sebagai tukang, mandor, atau kuli dari pembangunan objek tersebut. Setelah bangunan tersebut selesai maka masyarakat kembali ke habitatnya dengan sangat sedikit sekali yang dapat merobah kehidupannya dengan pembangunan tersebut.
Sebagai salah satu contoh, pada tahun 2008 yang lalu ada daerah dengan topografi perbukitan yang jauh dari daerah tetangga mencapai 7 KM dengan 300-an KK pada suatu program XXXX mereka mengusulkan di daerah mereka dibangun sebuah pasar, padahal sampai hari ini kampung mereka belum dialiri listrik PLN walaupun potensi sumber daya air yang dapat dijadikan modal utama untuk pembuatan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) cukup bagus. Oleh tim verifikasi program, pembangunan pasar ini dianggap layak untuk didanai oleh program, alhasil pembangunan pasar telah selesai dilaksanankan 100%. Namun beberapa hari lalu penulis sengaja melihat langsung ke lapangan pembangunan pasar tersebut, ternyata pasar yang dibangun dengan budget ratusan juta rupiah belum dan sepertinya tidak akan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Disisi lain mereka tetap memikirkan untuk membeli BBM bagi yang mampu membeli mesin solar sebagai sumber listrik.
Penulis berasumsi masih ada ribuan bahkan mungkin jutaan lagi bangunan yang kurang/ tidak tepat sasaran seperti contoh diatas dapat kita jumpai di negari ini, yang terjadi adalah seperti kata pepatah ”Minyak Habis, Makanan tak enak” (Mubazir). Kedepan seandainya seluruh lapisan yang terlibat dalam program pembangunan dapat memperhatikan hal diatas berkemungkinan besar MONUMEN itu tidak akan bertambah lagi, toh monumen yang ada saja tidak dapat kita merawatnya dengan baik.
0 Komentar
|