|
Sokola (Kelompok Pendidikan Alternatif) adalah kumpulan orang-orang yang memfasilitasi pendidikan dengan metode dan kurikulum alternatif kepada kelompok marginal yang belum atau tidak terjangkau oleh pendidikan formal.
Sokola mengawali kegiatannya di komunitas Orang Rimba, Jambi. Meski baru berdiri pada akhir tahun 2003, kegiatan fasilitasi baca-tulis-hitung telah dirintis oleh Butet Manurung sejak tahun 1999 sebelum akhirnya mendirikan Sokola bersama lima orang yang telah berpengalaman lainnya.
Metode yang dihasilkan melalui perjalanan panjang pendampingan oleh Butet itulah yang kemudian digunakan oleh Sokola dan dikembangkan menurut kebutuhan komunitas yang menjadi peserta belajarnya. Program pendidikan yang Sokola memiliki tiga tahap yaitu pendidikan dasar baca tulis hitung, pendidikan lanjutan yaitu pendidikan tentang sistem di dunia luar hutan seperti tentang laut dan sistem pemerintahan, dan pendidikan keterampilan sesuai dengan potensi sumber daya lokal, misalnya pengetahuan tentang pertanian.
Sokola Island School – Wailago, NTT
Desa Wailago merupakan desa pesisir yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Meski tinggal di pesisir, mata pencaharian utamanya adalah bertani jagung dan rumput laut.
Desa ini dilanda tsunami pada tahun 1992. Kebutuhan literasi muncul ketika mereka berhubungan niaga dengan orang luar.
SOKOLA mulai melakukan fasilitasi baca-tulis di Wailago sejak Juni 2006 yang dibuka bagi semua lapisan warga, meliputi kelompok anak-anak, remaja perempuan, ibu-ibu, serta bapak-bapak dan pemuda.
SOKOLA (Kelompok Pendidikan Alternatif)
Jenggala 1 no.7, Depnakertrans - Kranji
Bekasi, Indonesia 17145
Ph. +62.21.94942448 (Hany) or +62.8180893948 (Indit)
Website: http://sokola.org
Email. rumasokola@yahoo.com
*) Logo Sokola diambil dari situs Sokola; foto Island School Wailago milik Dwi Anggraeni. |