Oleh

Sejumlah pria sibuk menjemur gabah di bawah terik matahari di Dusun Ndemen, Desa Wijimulyo, Kecamatan Naggulan, Kabupaten Kulon Progo. Peluh membasahi tubuh mereka. Di samping tempat penjemuran, beberapa lelaki lainnya tengah menimbang benih padi, lalu mengepaknya dalam kemasan plastik, dan kemudian memberi label merek.

Mereka adalah para petani yang tergabung dalam kelompok tani “Maju”. Satu dari sedikit komunitas petani di Kabupaten Kulon Progo yang secara mandiri berhasil mengembangkan usaha pembenihan kelas benih induk, menangkarkannya menjadi benih pokok berlabel ungu, serta menanamnya untuk menghasilkan benih padi kualitas bagus.

Kesuksesan kelompok itu berawal pada tahun 1973 ketika 11 petani dari Nanggulan ingin memiliki lampu Petromaks. Mereka memilih arisan untuk memiliki barang yang harganya mahal kala itu. Setelah semua petani memiliki Petromaks, kemudian dilanjutkan dengan membeli barang lain, seperti meja, kursi, dan lemari.

Pada tahun 1978 mereka membentuk kelompok tani dengan nama “Maju”. Selain arisan, kegiatan kelompok itu adalah simpan-pinjam dan pengembangan ternak kambing.

Tahun 1980-an kelompok itu mengembangkan usaha pembenihan padi didampingi petugas balai benih. “Ini satu-satunya kelompok tani yang bisa menanam benih padi label putih atau kelas sumber benih induk. Benih pokok ini ditanam kelompok-kelompok penangkar dan menghasilkan label biru yang dianjurkan ditanam petani, “kata Joko Purnomo, Ketua Kelompok Tani “Maju”.

Benih induk tidak bisa langsung ditanam petani untuk beras konsumsi karena harganya mahal dan produksinya kurang. Untuk memenuhi kebutuhan benih induk dan benih pokok itu, kelompok tersebut lalu ditunjuk Dinas Pertanian DI Yogyakarta untuk mengadakan benih induk dan menangkarkan benih pokok. “Hasil pembenihan itu harus lulus uji untuk disertifikasi”, tuturnya.

Hingga kini kelompok itu memiliki 40 anggota aktif, 55 anggota tidak aktif, dan 85 non-anggota pemanfaat jasa langsung. Para anggota aktif merupakan petani yang memanfaatkan jasa kelompok, mengikuti segala kegiatan kelompok, termasuk arisan. “Kami mengadakan arisan setiap Minggu wage malam untuk mengikat anggota dan agar segala informasi cepat sampai ke anggota,” ujarnya.

Kegiatan simpan-pinjam mereka berhasil menghimpun dana hingga 23 juta. Sedangkan produksi benih pernah mencapai 15-20 ton benih kering. Iuran yang terus dilakukan membuat mereka mampu memiliki alat pengolahan pertanian seperti traktor, mesin pengolah gabah (huller), dan pengering padi.

Sejauh ini kelompok itu menggarap 25 hektar lahan pertanian milik petani maupun kas desa. Luas lahan untuk penangkaran benih hanya sekitar 15 hektar, sedangkan lahan pembenihan hanya 5 hektar. Oleh karena, tidak semua petani ingin lahannya dijadikan penangkaran, tetapi ingin agar hasil produksi mereka bisa dikonsumsi. “Jadi, kami jadi penangkar sekaligus produsen,” ujarnya.

Para petani juga membeli benih, pupuk, dan menyewa peralatan pertanian pada kelompok mereka sendiri. Pembayaran dilakukan setelah panen. “Kalau sudah panen, anggota wajib membayar pinjaman ditambah bunga 1 persen per bulan. Hasil penjualan benih itu untuk mengembangkan usaha dan sebagian dikembalikan kepada anggota,” kata Joko.

Sebagian benih padi yang baru panen disimpan di gudang dan pengurus kelompok. Pemisahan tempat penyimpanan ini untuk menjaga kemurnian karena benih yang mereka tanam, khususnya varietas IR 64 dan Ciherang, dipasarkan sekitar wilayah Kulon Progo, Kebumen, Wonosobo, Karanganyar, dan Klaten.

“Tahun lalu kami menyediakan 8,5 ton benih, tetapi masih kekurangan karena banyaknya permintaan dari daerah lain,” kata Rasiman (62), Sekretaris Kelompok Tani “Maju”. Oleh karena, harga jual benih yang mereka produksi lebih murah dibandingkan dengan distributor lain. Harga benih mereka sekitar Rp 4.250 per kilogram atau Rp 22.500 per 5 kilogram, sedangkan di pasaran Rp 30.000 per 5 kilogram.

Kuncinya Kekompakan

Kesuksesan pemberdayaan kelompok tersebut terletak pada kekompakan anggota itu. Mereka juga berupaya untuk tidak menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama dan memilih memakai jamur sebagai racun organik. Penggunaan pestisida dinilai merugikan petani karena butuh biaya tinggi untuk membeli obat dan membayar upah tenaga. “Kalau tidak disemprot pestisida, tingkat kerusakan hanya 5 sampai 10 persen. Ini lebih murah dibandingkan dengan menggunakan obat,” ujarnya.

Setelah krisis moneter, usaha pembenihan padi mengalami jatuh bangun. Bantuan benih dari pemerintah pusat baru-baru ini malah menghambat pemasaran banih yang mereka produksi. Untuk memperkuat diri, kelompok tani itu membangun jejaring dengan kelompok tani pembenih lain. Jejaring itu sepakat dalam menentukan harga benih dan saling kerja sama dalam memasarkan hasil panen.

Pemberdayaan

Kegigihan dalam budidaya benih telah membuat kelompok tani itu mencapai kemandirian. Dengan semangat keswadayaan, mereka berusaha agar bisa mandiri sejak proses produksi hingga pemasaran. Usaha ini dilakukan tanpa bergantung pada pemerintah maupun tengkulak.

Hal itu merupakan salah satu bentuk model pemberdayaan masyarakat. Menurut Wihatnolo dan Dwidjowijoto (2007), pemberdayaan dapat diterapkan untuk memberdayakan orang, masyarakat, organisasi. Pemberdayaan organisasi mencakup peningkatan keahlian para anggotanya dan memberi dukungan timbal balik yang diperlukan untuk memengaruhi perubahan sosial.

Adapun pemberdayaan masyarakat merupakan tindakan kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan hubungan antar organisasi masyarakat.

Kelompok tani itu mengembangkan usaha pembenihan padi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Tidak hanya itu, setiap anggota saling menularkan keahlian untuk mengembangkan pembibitan padi.

Akhirnya, usaha pembenihan padi itu memberi manfaat bagi kehidupan petani lain. Petani di luar kelompok bisa membeli bibit dan meminjam alat-alat pertanian milik kelompok dengan harga murah.

Menurut Lyons (2001) dalam buku Manajemen Pemberdayaan Sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat, komunitas masyarakat harus memenuhi dua kondisi sosial untuk dapat mengalami proses pemberdayaan. Selain harus mempunyai perasaan bermasyarakat, anggota masyarakat juga harus berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan komunitas itu.

Anggota kelompok tani berhasil mengembangkan perasaan bermasyarakat. Setiap anggota punya semangat kebersamaan untuk iuran. Tidak hanya semangat kebersamaan, mereka juga menyadari manfaat dari sistem kebersamaan yang dikembangkan kelompok. Selain itu, diperlukan juga unsur kepercayaan antar anggota dan struktur organisasi yang dibentuk (1996).

Rahardjo dan Rinakit (1996) menyatakan, pemberdayaan petani mengacu pada upaya mengubah kognisi dan perilaku petani miskin agar mandiri dan produktif dalam memenuhi kebutuhan hidup. Untuk menguatkan keswadayaan, kelompok tani “Maju” dan sejumlah kelompok pembenih lain di Kulon Progo sering berkumpul, berbagi informasi seputar masalah pertanian.
Ada sejumlah faktor yang memengaruhi ketidakberdayaan petani sehingga menghambat produktifitas sektor pertanian (Rahardjo dan Rinakit, 2000), antara lain keterbatasan tanah garapan, produksi, latar belakang pendidikan petani, dan intervensi institusi. Namun, itu semua dapat diatasi para petani di Dusun Ndemen, Kulon Progo, dengan menjaga kekompakan, saling berbagi, dan mau terus belajar.

Oleh: Evy Rachmawaty
Sumber: Kompas No. 188. Selasa, 8 Januari 2008.