Oleh

Untuk pendampingan masyarakat, saya lebih banyak di komunitas anak. Di pendampingan tersebut, saya lakukan lebih kepada ke penggalian masalah tentang apa-apa saja yang terjadi kepada anak di setiap komunitas tersebut dengan mengacu kepada hak-hak anak.

Selain penggalian masalah, saya juga mengajarkan anak-anak komunitas tersebut tentang Konvensi Hak Anak serta Undang-undang perlindungan anak. Kami melakukan pendampingan tersebut di beberapa komunitas anak mulai dari komunitas anak pannampu, komunitas anak kaluku bodoa, komunitas anak cambaya, komunitas anak pattingaloaan, serta komunitas tallo yang leaknya sebelah timur makassar. Kami melakukan di tempat tersebut dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut adalah lokasi binaan PLAN Indonesia, yang sebelumnya-sebelumnya adalah Funding yang selalu bekerjasama dengan Lembaga Kami yakni Saribattang Institute yang sebelumnya adalah Majalah Anak dan sekarang menjadi Lembaga yang konsen pada masalah-masalah anak. PLAN Indonesia merupakan lembaga donor yang bekerja diseluruh Indonesia dan memiliki unit area kerja di tiap Propinsi Indonesia, salah satunya Unit kerja di Makassar. Untuk saat ini pendampingan tersebut fakum beberapa lama, kefakuman tersebut terjadi karena saya dan teman-teman di Saribatang sibuk dengan akademik masing-masing, maklum karena semua pengurus Lembaga Saribattang merupakan anak yang peduli anak dan bekerja secara swadaya.

Untuk di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan sendiri, saya lebih banyak kependampingan kepada anak korban kekerasan. Jadi setiap kali ada laporan, baik itu korban/keluarga/tetangga yang datang LPA, ataupun melalui media massa tentang masalah anak yang terjadi maka, saya dan kakak-kakak di LPA turun untuk menginvestigasi tentang kejadian tersebut secara detail dan akurat. Setelah saya mendapatkan informasi yang dibutuhkan maka kami dengan sendirinya melakukan pendampingan kepada anak korban kekerasan, ESKA serta anak korban Traffiking. Kami mendampinginya mulai dari melapor ke kepolisian kalau belum sempat melapor kemudian ke Jaksa, Pengadilan sampai masalah tersebut selesai dengan tuntas ke putusan pengadilan apabila tidak puas maka kami melakukan pendampingan untuk banding lagi.

Pernah suatu kejadian ada anak umur 15 tahun yang ditangkap oleh kepolisian gara-gara perkelahian antar temannya sendiri. Sampai akhirnya masalah tersebut kami ketahui. Maka dengan cepat melakukan investigasi tentang masalah anak tersebut. Di LPA dan saya pribadi, beranggapan bahwa anak merupakan makhluk yang paling labil dan untuk penjara merupakan jalan yang paling akhir dalam penaganan anak yang berhadapan dengan hukum. Setelaha kami tahu tentang masalah tersebut maka kami memanggil seluruh kedua belah pihak untuk melakukan restorative justice terhadap masalah anak tersebut, dan dengan ketekunan serta kesabaran akhrnya keluarga pelapor melakuakn penandatanganan tentang masalah tersebut dan mencabut laporannya.

Biasanya saya melihat pula pendampingan terjadi karena ada donor yang mau menfasilitasi, ketika donor itu sudah tidak bekerja di area tersebut maka sebagian pendamping biasanya terhenti. saran saya, namanya mendampingi yang kita lakukan baik itu secara swadaya dan syukur kalau ada donor yang mau membiayai. yang jelasnya ada tidaknya donor kita harus selalu mendampingi masyarakat.

Mudah-mudahan dengan pelatihan pendampingan masyarakat yang lain, bisa saya ikuti agar pengetahuan saya tentang pendampingan masyarakat sendiri lebih luas dan bisa di laksanakan di seluruh tingkat komunitas masyarakat yang tidak terbatas kepada anak saja.