Oleh

Ketika cerita tentang keberhasilan telecenter-telecenter dalam memberdayakan masyarakat di sejumlah daerah menyebar, banyak orang cenderung langsung menunjuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai obat yang mujarab dalam hal pemberantasan kemiskinan.

Orang-orang pun dengan serta merta melek bahwa TIK, yang selama ini hanya dijadikan sarana konsumsi dan rekreasi di dunia maya, ternyata dapat pula dijadikan fasilitas yang produktif, bisa diambil keuntungan ekonomisnya.

Padahal, kalau mau dicermati, yang menjadi obat kemiskinan sebenarnya adalah informasi dan komunikasinya. TIK hanya menjadi sarana yang mempercepat laju pasokan obat kemiskinan tersebut. Dengan TIK, internet khususnya, masyarakat yang hendak diberdayakan bisa mendapatkan pengetahuan baru dari sumber informasi yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan instan. Pengetahuan baru dari luar inilah, yang jika dikombinasikan dengan pengetahuan lokal masyarakat lalu diaplikasikan dalam kehidupan nyata, dapat menjadi produktif dan memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat itu.

Perekonomian yang digerakkan oleh pengetahuan ini kemudian sering disebut ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Dalam perekonomian ini, semakin tinggi kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, maka semakin maju pula perekonomian masyarakat tersebut. Dan untuk mengoptimalkan pengetahuan yang dimiliki, maka pengetahuan ini perlu dikelola dengan sungguh-sungguh.

Konsep pengelolaan pengetahuan dicetuskan oleh Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi lewat bukunya yang berjudul The Knowledge – Creating Company. Dijelaskan bahwa pada dasarnya pengetahuan manusia terbagi menjadi dua, yakni tacit knowledge dan explicit knowledge. Explicit knowledge adalah pengetahuan yang tertulis, terarsip, dan terpublikasi, sehingga dapat dipakai sebagai bahan pembelajaran. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang tersimpan dalam kepala manusia dan biasanya berbentuk pengalaman, pemahaman, prosedur how to (know how), dan sebagainya. Tacit knowledge bersifat personal, abstrak, informal, dan sulit dikomunikasikan, sehingga sulit untuk dijadikan bahan pembelajaran.

Agar sebuah pengetahuan bisa berguna secara optimal, maka pengetahuan tersebut harus melewati siklus pengubahan, yang biasa disebut spiralisasi pengetahuan, secara terus menerus. Spiralisasi pengetahuan terdiri dari empat tahap, yaitu eksternalisasi, kombinasi, internalisasi, dan sosialisasi. Spiralisasi inilah yang membuat sebuah pengetahuan dapat terus berkembang.

Eksternalisasi adalah sebuah proses pengubahan tacit knowledge menjadi explicit knowledge. Intinya, pengetahuan yang masih tertahan di dalam kepala harus didokumentasikan. Dan media dokumentasi ini bisa bermacam-macam, bisa berupa tulisan, gambar, rekaman suara, maupun film/video.

Setelah didokumentasikan menjadi sebuah explicit knowledge, maka pengetahuan itu perlu dikombinasikan dengan explicit knowledge lain untuk meningkatkan bobotnya. Memperbanyak referensi dari berbagai sumber ketika menyusun sebuah dokumentasi pengetahuan adalah salah satu cara untuk melakukan hal ini.

Selanjutnya adalah internalisasi, dimana explicit knowledge yang ada perlu diubah menjadi tacit knowledge lagi karena dari sinilah explicit knowledge yang baru akan terbentuk. Melihat, memahami, menginterpretasi, dan menganalisa sebuah dokumentasi pengetahuan adalah contoh-contoh internalisasi pengetahuan.

Setelah terinternalisasi, maka perlu dilakukan sosialisasi pengetahuan. Sosialisasi ini pada dasarnya sama dengan kombinasi. Hanya saja, apabila kombinasi bermaksud untuk memperkaya sebuah explicit knowledge agar lebih berbobot, maka sosialisasi bertujuan untuk memperkaya tacit knowledge. Hal ini bisa dicapai dengan melakukan diskusi, wawancara, atau observasi terhadap orang lain yang dirasa memiliki kompetensi pada suatu bidang.

Keempat tahap ini dilakukan secara berulang-ulang dan kontinyu. Dan idealnya, dalam setiap perulangan harus ada pengetahuan baru yang dihasilkan. Dengan pengetahuan-pengetahuan baru inilah perekonomian berbasis pengetahuan dapat terus dibangun dan diperkuat.

Rakyat Indonesia berjumlah 200 juta orang lebih. Seandainya pengetahuan orang sebanyak itu bisa dispiralisasi semua …

Satria A. Nonoputra
Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana