Oleh

WAINGAPU, P0skUpang.Com — Kabupaten Sumba Timur mendapat alokasi dana untuk Program Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan (PUAP) tahun 2010 senilai Rp 3,4 miliar.

Program PUAP 2010 diluncurkan tahun 2011 diberikan kepada 34 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di 34 desa dengan alokasi dana Rp 100 juta/gapoktan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sumba Timur, dr. Matius Kitu, Sp.B ketika membuka Rapat Evaluasi PUAP 2008 dan 2009, di aula Badan Pemberdayaan Perempuan (BPM) Kabupaten Sumba Timur, Kamis (7/1/2010).

Matius mengatakan,  dana untuk program PUAP 2010 saat ini dalam proses transfer dari Kementerian Pertanian ke rekening gapoktan. Agar pengelolaan Program PUAP 2010 berhasil dengan baik sesuai dengan pedoman penyaluran  dan pemanfaatan,  Matius mengatakan, perlu adanya sosialisasi kepada tim teknis  kecamatan, pengurus gapoktan dan penyuluh pendamping.

Melalui sosialisasi, Matius berharap semua unsur atau pemangku kepentingan yang terlibat dalam program PUAP mengetahui dan memahami tugas dan fungsinya sehingga pelaksanaan PUAP 2010 diharapkan lebih baik dan lebih terarah dibandingkan  tahun sebelumnya. Dengan demikian,  bisa dicapai sasaran PUAP untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di pedesaan.

Dalam sosialisasi, Matius minta agar peserta yang terdiri dari tim teknis kecamatan mulai dari camat, Kepala BPP dan kepala desa/ lurah,  penyuluh pendamping dan pengurus Gapoktan  diberikan pembekalan aturan tentang pengelolaan PUAP secara jelas, terinci sehingga dapat mengurangi kesalahan di lapangan.

“Berangkat dari pengalaman tahun 2008 dan 2009, saya minta agar dalam sosialisasi disampaikan pula contoh kasus yang terjadi di Sumba Timur sebagai refrensi penanggulangan dan pemecahan masalah,” kata Matius.

Ia  mengungkapkan program PUAP di Sumba Timur mulai bergulir sejak tahun 2008 dengan total dana sampai tahun 2010 Rp 8,4 miliar. Program PUAP merupakan bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) dengan sasaran utama mengurangi kemiskinan dan pengangguran di pedesaan.

Program PUAP, jelas Matius, dirancang untuk memecahkan permasalahan mendasar yang dihadapi petani  seperti  kurangnya akses ke sumber permodalan,  jaringan pasar lemah, penguasaan teknologi dan organisasi  yang rendah. Program PUAP hadir menyentuh kebutuhan mendasar petani tersebut.

Dia meminta agar program ini dikelola dengan serius, teliti, terbuka dan penuh tanggung jawab dibarengi pendampingan dan pengawalan ketat dari penyuluh pendamping dan penyelia mitra tani, juga supervisi dan pengendalian secara berjenjang dan berkelanjutan oleh tim teknis kecamatan dan kabupaten.

Pelaksanaan UAP dua tahun sebelumnya telah menyentuh 50 gapoktan  tersebar di 11 kecamatan dengan alokasi dana per gapoktan sama seperti tahun  2010. Agar pelaksanaan PUAP transparan, maka perlu ada evaluasi melalui kunjungan lapangan maupun melalui pertemuan di kecamatan atau kabupaten.

Matius juga mengungkapkan dalam dua tahun pelaksanaan PUAP masih banyak dijumpai kelemahan dan permasalahan baik teknis operasional maupun administrasi pengelolaan program.  (dea)

Sumber: http://kupang.tribunnews.com