Sri Lestari Wahyuningroem
3 Oct 2007
Sri Lestari Wahyuningroem, perempuan berparas ayu ini adalah seorang dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia yang sepak terjangnya dalam isu gender sangat nyata dan aktif. Ia adalah wanita kelahiran 31 tahun lalu yang semenjak tahun 2000 menjadi dosen dan konsisten membawa isu tentang perempuan ke permukaan.
Saat ini Ia menjadi dosen bagi program S1 Reguler serta S2 dengan mata kuliah yang relevan dengan idealismenya. Mata kuliah Perempuan dan Politik, Pemikiran Politik Kontemporer, Politik Identitas dan Kewarganegaraan, Politik Lingkungan dan masih banyak lagi yang kini turut digawanginya. Sepanjang karir akademisnya, Ia banyak menulis dan meriset tentang masalah perempuan. Dengan konsistensinya, Ia dipercaya untuk menjadi Program Officer on Gender (Program on Response to Tsunami, Nangroe Aceh Darussalam) oleh United Nations Population Fund (UNFPA) pada Juli 2005—Desember 2005. Untuk periode Juli 2006—Juni 2008, Ia kembali menjabat sebagai Program Officer, namun di institusi yang berbeda, yakni United Nations Development Fund for Women (UNIFEM) di Aceh.
Selama ini Mbak Ayu atau Mbak Lewe, demikian Ia disapa mahasiswa dan rekannya, menggeluti misi pemberdayaan perempuan karena stigma perempuan, sebagai kelompok binaannya masih mengalami diskriminasi. Perempuan seakan menjadi warga nomor dua setelah kaum adam. Padahal sejatinya, perbedaan perempuan dan laki-laki hanya dalam hal seksualitasnya, bukan pembagian perannya. Faktanya, konsep pembagian peran (roles-play) gender yang ada selama ini senantiasa lebih berpihak terhadap laki-laki daripada perempuan. Program pemberdayaan ini menjadi unik dan berbeda dalam perspektif dia, karena selama ini isu tersebut selalu dijadikan wacana hegemonik. Perempuan dimarginalkan dan senantiasa dianggap pribadi-pribadi yang peripheral. Oleh karena itu Ia merasa tertantang untuk memperjuangkan perempuan agar berada dalam lanskap yang tidak peripheral.
Caranya untuk memulai pendekatan terhadap masyarakat binaannya, yakni perempuan, rata-rata tidak mengalami kendala yang serius. Hal ini dikarenakan secara internal, perempuan sendiri memiliki kendala yang sama dan berlaku universal. Perempuan memiliki pengalaman yang tidak berbeda, baik dalam bahasa lokal maupun bahasa universal. Similaritas masalah dalam menghadapi sistem hegemonik-lah yang memudahkan komunikasi dan pendekatan perempuan bermomongan dua ini terhadap target group-nya. Berangkat dari kesamaan ini, Ia memulai pendekatannya terhadap perempuan. Kendala serius, justru Ia hadapi tatkala menghadapi pendekatan terhadap masyarakat eksternal. Untuk menggugah sensitivitas gender dalam skopa masyarakat eksternal, Ia banyak menghadapi rintangan sistem, seperti sistem patriarkis ataupun sistem kapitalis yang pada muaranya menggiring perempuan ke tepian. Ia juga sangat kesulitan dalam menghadapi kelompok dominan yang eksis selama ini dalam misi pemberdayaannya terhadap perempuan.
Kegiatan pemberdayaannya unik dan berbeda karena kaum perempuan sendiri tidak banyak yang peka terhadap isu gender. Banyak yang tidak hirau pada konstelasi marginalisasi perempuan di dalam kancah domestik, masyarakat atau bahkan negara. Stigma perempuan yang dianggap kaum lemah yang tidak mampu beraktivitas di ruang publik masih banyak dianut oleh masyarakat. Keterwakilan perempuan dalam kontrak sosial berupa negara pun masih sangat minimum. Dari keprihatinan inilah Ayu yang pernah terobsesi menjadi seorang seniman ini berangkat untuk lebih mengakomodasi isu perempuan dalam perjuangannya.
Afiliasinya dalam beberapa organisasi perempuan, sedikit banyak turut membantunya dalam tujuan pemberdayaan. Dalam upaya programnya ini, Ia juga aktif di berbagai konferensi, workshop atau training internasional. Terakhir ini, pada 16-19 Juni 2007, Ia mempresentasikan research paper bertema “Exploitation and Sexual Abuse of Women in Violent Conflict” di Amsterdam, Netherlands. Yang akan segera Ia ikuti selanjutnya pada 12-16 September 2007 mendatang adalah 5th EUROSEAS Conference di Naples, Italy. Rencananya, pada pertemuan itu Ia akan mempresentasikan “Comparative Study on Aceh and Timor Leste on Women and Resilience in Post Conflict.”
Kegiatan pemberdayaannya tersebut tidak akan selesai sampai perempuan itu sendiri dapat menyadari posisinya yang diciptakan tidak untuk menjadi marginal. Karena pada hakikatnya laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang sama. Perempuan penyuka travelling, membaca dan menulis ini telah mafhum bahwa pada dasarnya perempuan sendiri sudah banyak yang menyadari kerugiannya berada dalam sistem patriarkis. Kendala utama yang dihadapi dewasa ini menurutnya adalah sistem hegemonik yang sama sekali tidak berpihak pada perempuan dan cenderung merugikan perempuan.
Penulis Tsany Ratna Dewi, lahir di Kuningan, 8 November 1985. Saat ini tengah menyelesaikan semester terakhirnya di program Sarjana Reguler (S1) Jurusan Ilmu Politik, FISIP, Universitas Indonesia. Ia peduli terhadap isu jender dan lingkungan. Karena ketertarikannya terhadap isu lingkungan, ia sempat mengikuti program magang di LSM Pelangi Indonesia. Selain itu ia juga aktif sebagai pekerja lepas di Litbang Metro TV selama hampir satu tahun terakhir. (Kontak penulis: tsany_trd@yahoo.com)
| Print article |

about 1 year ago
cayoooo
about 1 year ago
@ira touris police: semangatnya pertahankan terus …